Logo-light

Iprahumas Gelar Workshop Strategi Efektif Mengatasi Writer’s Block, Perkuat Kapasitas Humas Pemerintah

Superadmin

14 Februari 2026

15

Gambar Iprahumas Gelar Workshop Strategi Efektif Mengatasi Writer’s Block, Perkuat Kapasitas Humas Pemerintah

Rabu (11/2/2026) - Ikatan Pranata Humas (Iprahumas) menggelar Workshop bertajuk “Strategi Efektif Mengatasi Writer’s Block untuk Humas” secara daring melalui platform Zoom, sebagai upaya memperkuat kompetensi dan profesionalisme praktisi kehumasan di instansi pemerintah. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Iprahumas, Fachrurudin Ali Ahmad, dan menghadirkan dua narasumber kompeten di bidang komunikasi dan psikologi, yakni I Gede Alfian Septamiarsa, S.Sos., M.I.Kom., serta Silvany Dianita Sitorus, M.Psi. Workshop dipandu oleh moderator Novam Scorpiantien.

Dalam sambutannya, Fachrurudin Ali Ahmad menegaskan bahwa kemampuan menulis merupakan kompetensi inti bagi seorang pranata humas. Menurutnya, tantangan terbesar dalam praktik kehumasan saat ini bukan hanya kecepatan menyampaikan informasi, tetapi juga konsistensi menghasilkan konten yang berkualitas, akurat, dan berdampak.

“Writer’s block adalah hal yang manusiawi, namun tidak boleh menjadi penghambat kinerja humas. Melalui workshop ini, kami ingin membekali rekan-rekan dengan strategi dan teknik praktis agar tetap produktif, kreatif, dan profesional dalam setiap karya tulis,” ujar Fachrurudin.

Ia juga menekankan bahwa di era keterbukaan informasi publik, humas pemerintah dituntut mampu merespons isu secara cepat dan tepat. Karena itu, kapasitas menulis yang baik menjadi fondasi penting dalam membangun citra institusi dan menjaga kepercayaan publik.

Sesi materi pertama disampaikan oleh I Gede Alfian Septamiarsa, S.Sos., M.I.Kom., yang mengulas aspek teknis dan strategis dalam mengatasi kebuntuan menulis. Ia menjelaskan bahwa writer’s block sering kali muncul akibat tekanan target, perfeksionisme berlebihan, serta kurangnya perencanaan konten.

Menurutnya, salah satu strategi efektif adalah membangun sistem kerja menulis yang terstruktur, seperti menyusun content plan, membuat kerangka tulisan sebelum mengembangkan paragraf, serta membiasakan teknik free writing untuk memancing ide. Ia juga mengingatkan pentingnya memahami audiens sebagai langkah awal dalam menentukan sudut pandang tulisan.

“Menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi menyusun pesan yang strategis. Humas harus mampu mengidentifikasi tujuan komunikasi, karakter audiens, serta konteks isu yang berkembang,” jelas I Gede Alfian Septamiarsa.

Alfian juga membagikan sejumlah teknik aplikatif yang dapat langsung diterapkan dalam tugas kehumasan, seperti penggunaan metode 5W+1H secara sistematis, teknik storytelling untuk membuat rilis berita lebih menarik, hingga cara menyederhanakan bahasa birokratis agar lebih komunikatif dan mudah dipahami publik.

Sementara itu, narasumber kedua, Silvany Dianita Sitorus, M.Psi., membahas writer’s block dari perspektif psikologis. Ia menjelaskan bahwa kebuntuan menulis kerap dipicu oleh faktor internal seperti kecemasan, kelelahan mental, dan rasa takut terhadap kritik.

“Mindset sangat menentukan produktivitas menulis. Jika kita terlalu fokus pada hasil yang sempurna, maka prosesnya justru terhambat. Penting bagi humas untuk membangun pola pikir bertumbuh atau growth mindset, sehingga melihat menulis sebagai proses belajar yang terus berkembang,” paparnya.

Silvany juga memberikan beberapa strategi praktis untuk menjaga kesehatan mental dalam proses kreatif, antara lain teknik relaksasi singkat sebelum menulis, manajemen waktu yang efektif, serta membagi target penulisan menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dicapai.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi dan diskusi tim juga dapat menjadi solusi untuk memecah kebuntuan ide. Dengan bertukar gagasan, seorang humas dapat memperoleh perspektif baru yang memperkaya narasi dan memperkuat pesan komunikasi institusi.

Workshop yang berlangsung interaktif ini juga diwarnai dengan sesi tanya jawab, di mana peserta berbagi pengalaman terkait tantangan menulis rilis, konten media sosial, maupun naskah pidato pimpinan. Beragam studi kasus dibahas secara langsung, sehingga peserta memperoleh gambaran konkret mengenai penerapan strategi yang telah dipaparkan.

Moderator Novam Scorpiantien berhasil memandu jalannya diskusi secara dinamis dan komunikatif, memastikan setiap sesi berjalan efektif serta memberikan ruang partisipasi aktif bagi peserta.

Secara keseluruhan, workshop ini menekankan tiga pilar utama dalam mengatasi writer’s block, yakni strategi praktis, penguatan mindset, dan penguasaan teknik menulis yang aplikatif. Ketiga aspek tersebut dinilai sangat relevan untuk menunjang tugas kehumasan di instansi pemerintah, yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kejelasan informasi.

Melalui kegiatan ini, Iprahumas berharap para pranata humas semakin percaya diri dan produktif dalam menghasilkan karya tulis yang informatif, persuasif, dan berdampak positif bagi citra lembaga. Workshop ini sekaligus menjadi bukti komitmen Iprahumas dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia kehumasan yang adaptif terhadap tantangan komunikasi publik di era digital.

Bagikan